Minggu, 29 Mei 2016

Refleksi Diri



Siapakah aku? Untuk apa aku di sini? Apa tujuan akhirku? Apa yang aku butuhkan? Kepada siapa aku harus bersandar? Kepada siapa aku bertanya? Kepada siapa aku meminta pertolongan? Bagaimana caranya aku mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang aku ajukan?
Banyak sekali pertanyaan yang berputar dan cukup mengganggu di pikiranku. Bagaimana bisa hal ini terasa membingungkan dan setelah 19 tahun hidup, aku masih belum saja menemukan arti hidup ini? Lalu kemana saja diriku selama ini? Ataukah aku tidak mengenal diriku sendiri? Lalu siapa yang bisa mengenal diriku jika diriku sendiri saja tidak? Kenapa pertanyaanku selalu menimbulkan kembali pertanyaan yang lebih sukar dan rumit? Ini terasa berat bagiku.

Orang dewasa mengatakan bahwa masa-masa remaja akhir sepertiku merupakan saat-saat dimana kami akan mencari sesuatu yang disebut jati diri. Lalu apakah definisi jati diri itu sendiri? Entahlah. Yang pasti aku pahami, setiap manusia setidaknya harus mengenal siapa diri mereka dan apa tujuan akhir yang akan mereka capai nantinya. Manusia harus tahu darimana mereka berasal dan dimana muaranya.

Tidak semua orang dewasa berhasil melalui masa remaja dengan baik. Ada yang bahkan telah menginjak kepala tiga dan bahkan masih belum menemukan arti hidup baginya, masih belum mengenal siapa dirinya, dan masih belum menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan. Saya takut untuk menjadi manusia dewasa seperti itu. Saya takut untuk merasakan kekosongan jiwa atau kekosongan eksistensial seperti yang Viktor E. Frankl kemukakan. Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?

Naya Anindita, seorang film maker dan host di Jalan2Men, telah mengetahui apa yang ia inginkan dan akan menjadi apa dia nantinya. Ia telah mengetahui passion nya di dalam dunia komunikasi, sehingga pada kelas 2 SMA, ia meminta orang tuanya untuk menyekolahkan ia di sekolah komunikasi di Singapura. Ia berkata “Untuk apa aku menghabiskan waktu setahun untuk sekolah umum, jika aku sudah mengetahui passion ku?”. Setelah menuntut ilmu di Singapura, ia melanjutkan kuliahnya di Australia yang tentunya dalam bidang komunikasi, yang akhirnya dia menyadari bahwa especially passionnya di dunia perfilman. Di usianya yang sekarang, ia telah berhasil menggeluti berbagai macam kreativitas perfilman dan kini memasuki pengalaman pertamanya menjadi sutradara di film layar lebar yang berjudul Sundul Gan, yang akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.

Maudy Ayunda, seorang entertainer, penyanyi, musisi, dan seorang mahasiswi tingkat akhir di Oxford University. Ia seorang gadis berbakat dan juga cerdas! Ia mengambil sebuah jurusan gabungan antara filsafat dan politik yang merupakan jurusan unggulan dan hanya ada di Oxford University. Jika kalian memahami tentang universitas di luar negeri, Oxford merupakan universitas impian setiap umat manusia yang dimana universitas tersebut favorit dan memiliki level akademik yang tinggi. Banyak pelajar mancanegara yang mengincar untuk berkuliah di universitas tersebut. Maudy Ayunda pada usia ke 18 tahun, sudah berada di depan mimbar, berbicara di konferensi yang dihadiri oleh Presiden RI pada masa itu, Susilo Bambang Yudhoyono, dan di depan para duta besar dari negara-negara lain. Ia berpidato untuk mengritik pemerintahan agar lebih peka terhadap rakyat kecil, yang pastinya ia menggunakan bahasa inggris yang sangat fasih. Ia juga pernah menjabat menjadi ketua OSIS di British International High School, yang menambah kecintaan saya terhadap sosok Maudy Ayunda.

Setelah menyimak kedua sosok panutan saya tersebut, saya kemudian bekaca dan mendapati diri saya yang masih seperti ini. Di usia ke 19 tahun, masih belum menemukan siapa saya, jati diri saya, tujuan hidup saya, bahkan masih meragukan passion saya sendiri. Di sini saya merasakan keterpurukan dan perasaan kecil hati serta rendah diri. Saya malu karena saya merasa bukan siapa-siapa dan tidak tahu akan menjadi siapa. Dan jika saya bertanya pada orang lain, terlebih orang dewasa, mereka akan dengan mudahnya menjawab “Just be yourself”, yang membuat saya terbahak.

Just be yourself—jadilah dirimu sendiri, merupakan kata-kata ambigu yang saya kira tidak berdasar. Saya bahkan sempat berpikiran bahwa orang yang membuat kalimat tersebut merupakan orang antisocial yang tidak bisa berbaur dengan masyarakat umum. Atau ia hidup nun jauh di tengah hutan dan tidak pernah mengenal nilai, norma, aturan, dan bahkan dosa. Bagaimana bisa saya berpikiran seperti itu?

Saya suka berkelakuan dan berbicara semau saya. Kesan apapun yang ada di pikiran saya, akan langsung saya utarakan tanpa pernah berpikir akan resikonya. Ide yang muncul di pikiran saya, akan langsung saya lakukan, walaupun ide tersebut merupakan hal yang tidak masuk akal atau bahkan konyol. Saya suka berlaku seenak saya sendiri dan bahkan orang lain sering menyebutnya dengan ‘ketidaksopanan’ yang tidak berdasar. Orang membenci saya karena itu, orang mengolok saya juga karena itu, dan bahkan merendahkan diri saya karena itu pula. 

Saya suka bergaul dan berdiskusi dengan orang-orang yang lebih tua, umur 25 tahun ke atas. Saya suka mendengarkan kisah hidup mereka, suka jika diajak untuk berkumpul dan bercengkerama, saya suka mendapatkan banyak nasihat dan petuah dari mereka. Ya, orang yang jauh lebih tua dari saya, yang jika teman-teman saya menyebutnya ‘om-om’. Tidak jarang juga mereka berkata “Firda suka mainnya sama om-om.” yang kemudian membuat stigma dan pikiran jelek tentang saya. Orang-orang menggunjing saya  di belakang, orang merendahkan saya, dan membuat berbagai macam omong kosong tentang diri saya.  
Lalu dimana kebenaran just be yourself? Apakah maksud sebenarnya dari kalimat itu?

Jika saya menjadi diri saya sendiri, saya akan dengan bebas mengekspresikan kelakuan dan perkataan saya, tidak peduli apakah ada orang tersakiti dan keberatan atau tidak. Jika saya menjadi diri saya sendiri, saya akan bermain dan berkumpul dengan orang yang saya suka. Saya akan srawung dengan orang-orang yang mereka anggap sebagai ‘om-om’. Jika saya menjadi diri saya sendiri, saya akan berpakaian sesuai dengan apa yang saya inginkan, bahkan mungkin tidak mengenakan jilbab ketika berada di kampus dan mengikuti pembelajaran filsafat ini. Jika saya menjadi diri saya sendiri, saya akan lebih memilih untuk (mungkin) merampok bank dan jalan-jalan ke luar negeri, berkehidupan hedonisme, memadu kasih dengan siapapun yang saya inginkan. Jika saya menjadi diri saya sendiri, saya akan memiliki pacar sekarang tanpa ingat dosa.

Tapi apa yang terjadi? Kita tidak bisa hidup sebagaimana hal yang kita inginkan. Kita diikat oleh nilai, norma, aturan, dan bahkan dosa! Kita sudah berada dalam lingkup hidup yang semua hitam dan putih. Kita tidak bisa sembarangan mengambil langkah, tidak bisa bertindak semena-mena, karena hal tersebut akan menyalahi aturan. Kita tidak bisa benar-benar melakukan apa yang kita inginkan dan berlaku liberal jika pada kenyataannya panutan di Negara kita bukanlah liberalisme. Aturan-aturan kehidupan tersebut yang kemudian mengekang kita dan membuat konformitas tanpa batas. Kita tidak boleh berlaku tidak sesuai jalur karena akan menyalahi aturan di masyarakat. Kekreativitasan kita diuji dengan seberapa kuat mental kita saat menunjukkan diri kita sendiri. Pikiran kita dibentuk sejak kecil untuk mengikuti aturan yang ada, tanpa ada bantahan, tanpa ada pertentangan, dan hal itu mutlak adanya.

Pergolakan batin ini selalu menghantui keseharian saya, masih dalam pencarian jati diri, masih dalam pemikiran esensi hidup, dan masih dalam penggalian passion. Saya remaja labil yang masih miskin akan pengalaman hidup. Saya remaja labil yang masih ragu untuk melangkah. Saya remaja labil yang masih malu untuk mengemukakan apa yang saya inginkan. Saya remaja labil yang masih belum bisa menerima diri saya sendiri. Saya berada dalam kebutaan dan keputus-asaan. Saya haus akan jawaban dari pertanyaan saya tentang hakikat hidup. Dan setelah saya membaca tulisan saya dari atas hingga paragraf ini, saya menyadari sesuatu: saya nulis apa, sih?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar