Siapakah aku? Untuk apa
aku di sini? Apa tujuan akhirku? Apa yang aku butuhkan? Kepada siapa aku harus
bersandar? Kepada siapa aku bertanya? Kepada siapa aku meminta pertolongan?
Bagaimana caranya aku mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang aku ajukan?
Banyak sekali
pertanyaan yang berputar dan cukup mengganggu di pikiranku. Bagaimana bisa hal
ini terasa membingungkan dan setelah 19 tahun hidup, aku masih belum saja
menemukan arti hidup ini? Lalu kemana saja diriku selama ini? Ataukah aku tidak
mengenal diriku sendiri? Lalu siapa yang bisa mengenal diriku jika diriku
sendiri saja tidak? Kenapa pertanyaanku selalu menimbulkan kembali pertanyaan
yang lebih sukar dan rumit? Ini terasa berat bagiku.
Orang dewasa mengatakan
bahwa masa-masa remaja akhir sepertiku merupakan saat-saat dimana kami akan
mencari sesuatu yang disebut jati diri. Lalu apakah definisi jati diri itu
sendiri? Entahlah. Yang pasti aku pahami, setiap manusia setidaknya harus
mengenal siapa diri mereka dan apa tujuan akhir yang akan mereka capai
nantinya. Manusia harus tahu darimana mereka berasal dan dimana muaranya.
Tidak semua orang
dewasa berhasil melalui masa remaja dengan baik. Ada yang bahkan telah
menginjak kepala tiga dan bahkan masih belum menemukan arti hidup baginya,
masih belum mengenal siapa dirinya, dan masih belum menyadari apa yang
sebenarnya dia inginkan. Saya takut untuk menjadi manusia dewasa seperti itu. Saya
takut untuk merasakan kekosongan jiwa atau kekosongan eksistensial seperti yang
Viktor E. Frankl kemukakan. Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?
Naya Anindita, seorang film maker dan host di Jalan2Men, telah mengetahui apa yang ia inginkan dan akan menjadi
apa dia nantinya. Ia telah mengetahui passion
nya di dalam dunia komunikasi, sehingga pada kelas 2 SMA, ia meminta orang
tuanya untuk menyekolahkan ia di sekolah komunikasi di Singapura. Ia berkata “Untuk
apa aku menghabiskan waktu setahun untuk sekolah umum, jika aku sudah
mengetahui passion ku?”. Setelah menuntut
ilmu di Singapura, ia melanjutkan kuliahnya di Australia yang tentunya dalam
bidang komunikasi, yang akhirnya dia menyadari bahwa especially passionnya di dunia perfilman. Di usianya yang sekarang,
ia telah berhasil menggeluti berbagai macam kreativitas perfilman dan kini
memasuki pengalaman pertamanya menjadi sutradara di film layar lebar yang
berjudul Sundul Gan, yang akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.
Maudy Ayunda, seorang entertainer, penyanyi, musisi, dan
seorang mahasiswi tingkat akhir di Oxford University. Ia seorang gadis berbakat
dan juga cerdas! Ia mengambil sebuah jurusan gabungan antara filsafat dan
politik yang merupakan jurusan unggulan dan hanya ada di Oxford University.
Jika kalian memahami tentang universitas di luar negeri, Oxford merupakan
universitas impian setiap umat manusia yang dimana universitas tersebut favorit
dan memiliki level akademik yang tinggi. Banyak pelajar mancanegara yang
mengincar untuk berkuliah di universitas tersebut. Maudy Ayunda pada usia ke 18
tahun, sudah berada di depan mimbar, berbicara di konferensi yang dihadiri oleh
Presiden RI pada masa itu, Susilo Bambang Yudhoyono, dan di depan para duta
besar dari negara-negara lain. Ia berpidato untuk mengritik pemerintahan agar
lebih peka terhadap rakyat kecil, yang pastinya ia menggunakan bahasa inggris
yang sangat fasih. Ia juga pernah menjabat menjadi ketua OSIS di British
International High School, yang menambah kecintaan saya terhadap sosok Maudy
Ayunda.
Setelah menyimak kedua
sosok panutan saya tersebut, saya kemudian bekaca dan mendapati diri saya yang
masih seperti ini. Di usia ke 19 tahun, masih belum menemukan siapa saya, jati
diri saya, tujuan hidup saya, bahkan masih meragukan passion saya sendiri. Di sini saya merasakan keterpurukan dan
perasaan kecil hati serta rendah diri. Saya malu karena saya merasa bukan
siapa-siapa dan tidak tahu akan menjadi siapa. Dan jika saya bertanya pada
orang lain, terlebih orang dewasa, mereka akan dengan mudahnya menjawab “Just be yourself”, yang membuat saya
terbahak.
Just
be yourself—jadilah dirimu sendiri, merupakan
kata-kata ambigu yang saya kira tidak berdasar. Saya bahkan sempat berpikiran
bahwa orang yang membuat kalimat tersebut merupakan orang antisocial yang tidak
bisa berbaur dengan masyarakat umum. Atau ia hidup nun jauh di tengah hutan dan
tidak pernah mengenal nilai, norma, aturan, dan bahkan dosa. Bagaimana bisa
saya berpikiran seperti itu?
Saya suka berkelakuan
dan berbicara semau saya. Kesan apapun yang ada di pikiran saya, akan langsung
saya utarakan tanpa pernah berpikir akan resikonya. Ide yang muncul di pikiran
saya, akan langsung saya lakukan, walaupun ide tersebut merupakan hal yang
tidak masuk akal atau bahkan konyol. Saya suka berlaku seenak saya sendiri dan
bahkan orang lain sering menyebutnya dengan ‘ketidaksopanan’ yang tidak
berdasar. Orang membenci saya karena itu, orang mengolok saya juga karena itu,
dan bahkan merendahkan diri saya karena itu pula.
Saya suka bergaul dan
berdiskusi dengan orang-orang yang lebih tua, umur 25 tahun ke atas. Saya suka
mendengarkan kisah hidup mereka, suka jika diajak untuk berkumpul dan
bercengkerama, saya suka mendapatkan banyak nasihat dan petuah dari mereka. Ya,
orang yang jauh lebih tua dari saya, yang jika teman-teman saya menyebutnya ‘om-om’.
Tidak jarang juga mereka berkata “Firda suka mainnya sama om-om.” yang kemudian
membuat stigma dan pikiran jelek tentang saya. Orang-orang menggunjing
saya di belakang, orang merendahkan
saya, dan membuat berbagai macam omong kosong tentang diri saya.
Lalu dimana kebenaran just be yourself? Apakah maksud
sebenarnya dari kalimat itu?
Jika saya menjadi diri
saya sendiri, saya akan dengan bebas mengekspresikan kelakuan dan perkataan
saya, tidak peduli apakah ada orang tersakiti dan keberatan atau tidak. Jika saya
menjadi diri saya sendiri, saya akan bermain dan berkumpul dengan orang yang
saya suka. Saya akan srawung dengan
orang-orang yang mereka anggap sebagai ‘om-om’. Jika saya menjadi diri saya
sendiri, saya akan berpakaian sesuai dengan apa yang saya inginkan, bahkan
mungkin tidak mengenakan jilbab ketika berada di kampus dan mengikuti
pembelajaran filsafat ini. Jika saya menjadi diri saya sendiri, saya akan lebih
memilih untuk (mungkin) merampok bank dan jalan-jalan ke luar negeri,
berkehidupan hedonisme, memadu kasih dengan siapapun yang saya inginkan. Jika saya
menjadi diri saya sendiri, saya akan memiliki pacar sekarang tanpa ingat dosa.
Tapi apa yang terjadi? Kita
tidak bisa hidup sebagaimana hal yang kita inginkan. Kita diikat oleh nilai,
norma, aturan, dan bahkan dosa! Kita sudah berada dalam lingkup hidup yang
semua hitam dan putih. Kita tidak bisa sembarangan mengambil langkah, tidak
bisa bertindak semena-mena, karena hal tersebut akan menyalahi aturan. Kita tidak
bisa benar-benar melakukan apa yang kita inginkan dan berlaku liberal jika pada
kenyataannya panutan di Negara kita bukanlah liberalisme. Aturan-aturan
kehidupan tersebut yang kemudian mengekang kita dan membuat konformitas tanpa
batas. Kita tidak boleh berlaku tidak sesuai jalur karena akan menyalahi aturan
di masyarakat. Kekreativitasan kita diuji dengan seberapa kuat mental kita saat
menunjukkan diri kita sendiri. Pikiran kita dibentuk sejak kecil untuk
mengikuti aturan yang ada, tanpa ada bantahan, tanpa ada pertentangan, dan hal
itu mutlak adanya.
Pergolakan batin ini
selalu menghantui keseharian saya, masih dalam pencarian jati diri, masih dalam
pemikiran esensi hidup, dan masih dalam penggalian passion. Saya remaja labil yang masih miskin akan pengalaman hidup.
Saya remaja labil yang masih ragu untuk melangkah. Saya remaja labil yang masih
malu untuk mengemukakan apa yang saya inginkan. Saya remaja labil yang masih
belum bisa menerima diri saya sendiri. Saya berada dalam kebutaan dan keputus-asaan.
Saya haus akan jawaban dari pertanyaan saya tentang hakikat hidup. Dan setelah saya
membaca tulisan saya dari atas hingga paragraf ini, saya menyadari sesuatu: saya
nulis apa, sih?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar