Selasa, 11 April 2017

Apa Salahku?





Aku merupakan orang yang asertif. Suka berbicara apapun yang ada di dalam pikiranku. Menyuarakan apa yang menurutku benar, dan mengkritik apa yang menurutku salah. Ya. Asertif.
Namun, ada waktu dimana hal itu terasa runyam. Asertivitas tidak lagi merupakan hal yang baik. Saat dimana aku harus berpikir, apa salahku?
Sifat asertif ini membawaku untuk bersuara dalam suatu forum, atau bahkan langsung kepada individu. Mengritik apa yang menurutku salah yang disusul dengan saran. Tapi, dilihat dari bagaimana tanggapan dan respon mereka, aku melakukan suatu kesalahan.
Selalu. Salah. Bicara.

Senin, 09 Januari 2017

Jendela


 
source: comefare.donnamoderna.com


Tidak ada yang bisa menandingi indahnya momen kolaborasi antara sinar matahari pagi, secangkir kopi, dan sebuah buku yang mengajak pembaca untuk menggunakan logikanya dalam memandang sebuah kehidupan. Ya, di sinilah aku, menyesap kopi yang terlampau panas, yang memang sengaja ku buat begitu agar awet dalam menemani lembar demi lembar yang nantinya akan ku arungi pagi ini.

Setelah menyesap kopi, aku mulai fokus ke buku di tangan, membuka acak sebuah halaman, dan menghirup aroma lembaran tersebut. Hmm. Orang lain boleh berkata kalau aroma kopi, teh, dupa, ataupun lavender merupakan aroma yang menenangkan, tetapi tidak bagiku. Aroma sebuah buku, dengan jenis kertas tertentu, akan menghantarkan sensasi yang menyenangkan, sekaligus menenangkan. Dengan membaui aroma jenis kertas di buku, aku akan langsung mengetahui sebagus apa buku ini nanti. 

Aku sudah lama memiliki kebiasaan ini, menghirup aroma lembaran kertas dalam buku. Entah sejak kapan, yang pasti sudah lama sekali. Selama aku mengenal hal menakjubkan yang diberi nama “buku”.