Aku merupakan orang yang asertif. Suka berbicara apapun yang ada di dalam pikiranku. Menyuarakan apa yang menurutku benar, dan mengkritik apa yang menurutku salah. Ya. Asertif.
Namun, ada waktu dimana hal
itu terasa runyam. Asertivitas tidak lagi merupakan hal yang baik. Saat dimana
aku harus berpikir, apa salahku?
Sifat asertif ini membawaku
untuk bersuara dalam suatu forum, atau bahkan langsung kepada individu.
Mengritik apa yang menurutku salah yang disusul dengan saran. Tapi, dilihat
dari bagaimana tanggapan dan respon mereka, aku melakukan suatu kesalahan.
Selalu. Salah. Bicara.
Apa yang aku nyatakan selalu
disangka arogan dan mendiskreditkan sesuatu, yang sama sekali bukan itu
maksudku. Disuruhlah aku untuk “Kalau ngomong tuh dipikir dulu,” dan
memandangku hina seakan aku telah melontarkan kalimat sumpahan yang tidak
senonoh karena terkadang pernyataanku menyakiti pihak tertentu. Memangnya apa
yang aku kemukakan tidak berlandaskan pemikiran terlebih dahulu? Memangnya ada
kejujuran yang dibarengi oleh kesenangan yang hakiki? Apakah ini wujud pemboikotan
suara? Entahlah.
Ketika aku bertanya salahku
dimana, tidak ada yang bisa menjawab dan bahkan tetap disangka aku masih
bersikap arogan lewat pertanyaan tersebut. Tidak ada yang peduli apakah aku
tulus bertanya atau tidak. Seakan apa yang aku lakukan semua olokan bagi mereka
sehingga membuat mereka marah dan marah padaku. Kecaman demi kecaman datang
tanpa aku tahu kenapa.
Ya. Tanpa aku tahu kenapa. Apa
salahku?
Penekanan untuk memikirkan masak-masak
terlebih dahulu sebelum bicara membuat orang-orang di sekitarku kerap berbicara
di belakang, mengemukakan pendapatnya diam-diam, yang kemudian malah berlanjut
menjadi gunjingan terhadap pihak tertentu. Hal tersebut bisa saja terjadi
karena mereka takut salah omong ketika harus menyuarakannya di forum atau pihak
tertentu.
Bicara di belakang,
mengomentari di belakang, mengkritik di belakang, sangat bukan gayaku. Apakah
aku harus menjadi seperti mereka yang berbicara diam-diam untuk bisa berkicau sepuasnya
dengan rasa aman dari gunjingan dan tatapan ‘kalau-ngomong-tuh-dipikir-dulu’
dari orang-orang? Haruskah?
Egosentris. Aku memperlakukan
orang lain sebagaimana aku ingin orang lain memperlakukanku. Bisa dibilang aku
suka orang berkata jujur padaku di depan daripada harus berkomentar di belakang
yang nantinya aku toh tidak bisa mendengarnya.
“Tidak semua orang suka
mendengarnya.” Ada orang yang tidak menyukai hal jujur? Apakah aku harus
“menjilat” agar perkataanku disukai? Lalu siapakah aku ini? Manusia tidak
berprinsipkah?
Kemudian muncullah suatu
pernyataan “nggak usah ngomong deh, takut salah” yang kerap kita jumpai di
sekeliling kita. Para manusia di balik layar yang hobi mengomentari pihak
tertentu di balik layar. Apakah mereka jauh lebih baik dari diriku yang asertif
ini? Bisa jadi orang-orang yang bicara di belakang tersebut merupakan wujud
asertivitas yang telah padam. Mungkin juga mereka lebih memilih bicara di
belakang setelah dihajar habis-habisan oleh kecaman lingkungan.
Entahlah.
Lingkungan memojokkan kita
untuk mengikuti saja apa yang telah
direncanakan. Haram hukumnya berkomentar. Dosalah kamu wahai pengkritik ide!
Begitukah?
Entahlah.
Hal ini semakin membuatku
bingung.
Lalu bagian mana yang lebih
baik? Bicara jujur nan asertif dengan resiko ‘salah omong’ atau bicara di
belakang dengan rasa aman nan bebas?
Atau kemudian muncullah
pilihan ketiga, yaitu diam. Karena diam itu emas.
Benarkah demikian? Apakah
ketika ada sesuatu hal yang salah kita harus diam dan pura-pura tidak lihat?
Apakah kita mengikuti arus konformitas dengan menyetujui saja apa yang
dibicarakan? Lalu untuk apa diadakannya diskusi jika yang terjadi hanyalah
kesunyian? Apakah kita bisa berkembang jika lingkungan memilih diam dan pasif
melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya? Bagaimana dengan
perintah dalam Islam untuk menegur saudara seiman yang berbuat salah?
Lucunya, terkadang kita jumpai
beberapa pihak yang dengan santai mengatakan “Ngomong aja langsung kalau nggak
suka, jangan ngomong di belakang. Biar aku tahu salahku dimana,” yang nantinya
berakhir dengan air mata karena disangka aku telah menghinanya dengan
mengemukakan apa-apa yang aku tidak suka.
Apakah ini lelucon?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar