![]() | ||||
| source: comefare.donnamoderna.com |
Tidak ada yang bisa menandingi indahnya
momen kolaborasi antara sinar matahari pagi, secangkir kopi, dan sebuah buku
yang mengajak pembaca untuk menggunakan logikanya dalam memandang sebuah
kehidupan. Ya, di sinilah aku, menyesap kopi yang terlampau panas, yang memang
sengaja ku buat begitu agar awet dalam menemani lembar demi lembar
yang nantinya akan ku arungi pagi ini.
Setelah menyesap kopi, aku mulai fokus
ke buku di tangan, membuka acak sebuah halaman, dan menghirup aroma lembaran
tersebut. Hmm. Orang lain boleh berkata kalau aroma kopi, teh, dupa, ataupun
lavender merupakan aroma yang menenangkan, tetapi tidak bagiku. Aroma sebuah
buku, dengan jenis kertas tertentu, akan menghantarkan sensasi yang
menyenangkan, sekaligus menenangkan. Dengan membaui aroma jenis kertas di buku,
aku akan langsung mengetahui sebagus apa buku ini nanti.
Aku sudah lama memiliki kebiasaan ini,
menghirup aroma lembaran kertas dalam buku. Entah sejak kapan, yang pasti sudah
lama sekali. Selama aku mengenal hal menakjubkan yang diberi nama “buku”.
Bermula dari sebuah Ensiklopedia Dinosaurus
yang memiliki gambar menakjubkan, aku menyukainya, membacanya, dan kuulangi
terus sehingga dapat menghafalnya di luar kepala. Orang tua ku menyadari
minatku dan langsung berusaha untuk memberikan dukungan secara instrumental
dengan membelikan banyak sekali buku. Komik, lebih tepatnya.
Aku sangat yakin bahwa aku sama sekali
tidak memahami maksud dari komik tersebut, sehingga saat membacanya pun aku
hanya seperti orang berlatih membaca, bukan benar-benar memahami konteks dari
tulisan tersebut. Agaknya lebih tertarik melihat gambarnya, yang kemudian
tangan jahilku pun sukses menambahkan anting-anting, jenggot, bulu mata
tambahan, lipstik, serta kumis di beberapa tokoh komik tersebut.
Semakin bertambahnya usia, kecintaanku
terhadap buku pun ikut bertambah. Aku haus akan bacaan. Semua bacaan ku lalap
habis tanpa ampun. Jika sudah berhadapan dengan buku, aku bisa di kamar
seharian, lupa mandi, bahkan juga lupa makan. Aku ingat saat berada di rumah
saudara, aku menemukan sebuah buku saku yang kertasnya sudah agak lapuk. Dengan
bersemangat aku membaca dan tidak menyadari bahwa ternyata bacaanku merupakan
bacaan orang dewasa yang berisi adegan dewasa pula. Baru sampai bab satu, buku
itu sudah direnggut dari tanganku dan mendapatkan banyak nasihat bahwa lebih
baik membaca buku-buku yang dibelikan oleh orang tuaku saja, dan tidak dengan
sembarangan membaca buku-buku semacam itu—pada saat itu, aku tidak begitu paham
dengan apa yang dimaksud “semacam itu”.
Karena Ayah merupakan orang yang sama
haus bukunya denganku, ia membuat semacam perpustakaan mini untuk buku-bukunya
dan buku-bukuku. Bergabungnya koleksi buku kami, membuatku penasaran dengan
bacaan Ayah yang tebal dan terlihat membosankan. Bukunya tidak banyak warna di
sampul, tulisannya ekstra mini, dan tidak ada gambarnya pula di lembarnya. Aku
mulai menebak-nebak isi dari buku tersebut dan apa yang membuat Ayah ku
tertarik.
Pada usia ke sembilan, Ayah mulai
memperbolehkan aku untuk melihat koleksi bacaannya—buku-buku membosankan itu—dan
kemudian merekomendasikan beberapa buku untuk ku baca. Dengan penasaran, aku
mencoba menarik satu buku yang terlihat sangat tebal, sampulnya bewarna pudar,
dengan tokoh seorang bocah lelaki di sampulnya. “Ini apa, Yah?” tanyaku.
“Pilihan bagus! Kamu harus membacanya!
Ini buku bagus sekali, judulnya Bumi Manusia!” jelas Ayah sambil menunjuk
sampul buku itu. Aku melihat nama pengarang buku itu dan berusaha keras untuk
mengejanya, Pramoedya Ananta Toer.
Setelah membaca tetralogi buku itu dan
menyelesaikannya dengan penuh tanda tanya serta agak kebingungan karena
sebagian besar aku tidak memahami maksud dari kalimat yang dituliskan, Ayah
merekomendasikan beberapa buku dan ku lahap semuanya tanpa ragu—walaupun tetap
kebingungan dengan maksud dari isi bacaan buku-buku itu.
Saking cintanya dengan buku, pernah aku
berimajinasi, saat ada bencana seperti gempa atau kebakaran, hal yang pertama
aku selamatkan yaitu buku tetralogi Twilight ku, karena tidak rela jika Edward
Cullen tertimbun batu bata.
Buku-buku tersebut membuatku tumbuh
menjadi seorang gadis yang penuh tanya dan sedikit aneh. Aku merasa berbeda
dari teman-temanku yang lain. Banyak pembicaraan mereka yang tidak aku pahami, terutama
perilaku mereka. Aku ingin mencoba untuk berperilaku seperti mereka, namun
entah kenapa aku terlihat bodoh dan mempertanyakan kembali perilaku itu,
perlukah?
Menginjak bangku SMP, aku mulai bisa
sedikit beradaptasi dengan sosial. Aku membuka diri dengan pembicaraan mereka
dan berusaha untuk memahaminya, walaupun terkadang apa yang ada dalam otakku
mulai agak terdistraksi jika sedang menggemari sesuatu. Misalnya saja, ketika
menginjak bangku SMP, teman-temanku mulai banyak yang membicarakan ketertarikannya
dengan lawan jenis, mulai membentuk suatu hubungan yang mereka anggap sebagai “pacaran”,
dan pergi buang-buang uang dengan jalan-jalan ke Mall, sedangkan aku sedang
sangat tertarik dengan istilah shape-shifter
dan hal-hal tentang makhluk luar angkasa! Bisa kalian bayangkan, bagaimana
reaksi teman-temanku ketika aku mulai berbicara tentang Alien berlendir di saat
mereka sedang membuka topik tentang “cowok-kelas-sebelah-yang-ganteng-banget”?
Aku berusaha keras untuk memahami dan
mengikuti pola pikir mereka. Namun, tetap saja aku tidak bisa meniru perilaku
mereka. Hanya mentok sampai memahami. Anehnya, hal itu tidak membuatku sedih.
Pribadiku mulai terbentuk, untuk menjadi acuh terhadap tren. Aku tidak peduli
dengan hal-hal booming, selagi itu
tidak memberikan pengaruh yang merugikan terhadap aku dan buku-bukuku.
Saat menduduki bangku SMA, aku mulai
banyak menemukan buku-buku yang bertema traveling,
study abroad, berlatar belakang
negara empat musim, dan masih banyak hal semacam itu. Pengetahuan-pengetahuan
itu membuatku penasaran dan tertarik dengan melakukan perjalanan jauh. Tertarik
dengan menemukan tempat-tempat baru yang menenangkan. Aku bahkan sempat
berkhayal tentang membaca buku saat musim gugur di bangku taman. Deskripsi itu
terasa romantis sebelum aku menyadari bahwa musim gugur itu dingin dan
berangin, aku tidak akan bisa membaca tanpa resiko bukuku terbang dibawa angin
atau tanganku tremor karena kedinginan.
Untuk permintaanku kali ini, Ayah
melarang karena ia takut melihatku jauh dari rumah. Aku anak perempuan
satu-satunya, dan aku rasa aku paham dengan perasaannya. Aku tidak pernah lagi
meminta untuk dibolehkan naik gunung atau ikut organisasi pecinta alam. Apalagi
ketika temanku pernah mengatakan bahwa naik gunung bisa berakibat kematian. Aku
rasa lebih baik melangkah di jalan yang aman saja.
Namun, ternyata perasaan ini semakin
membuncah, dan dengan nekat aku pergi ke luar kota bersama temanku. Perasaan itu
menyenangkan sekali!—perasaan saat keluar kota, bukan perasaan nekatnya. Aku
paham benar resiko yang menantiku di rumah ketika orang tuaku tahu bahwa aku
pergi jauh tanpa ijin, tapi aku lebih paham jika aku tidak bisa mengubur rasa
ini terus, karena hasrat akan terus menggema dalam batinku dan memberontak
untuk menuruti kemauannya.
Walaupun aku merasa bersalah karena
dimarahi habis-habisan, tapi tidak menyesal karena setelah orang tuaku melihat
bagian tubuhku masih utuh dan aku tidak mati, mereka melonggarkan perijinannya
dan aku bisa bebas menikmati alam dengan bebas!
Aku memanfaatkan perjalanan hidupku
untuk bertemu banyak orang-orang baru, lebih membuka diri dan pikiran terhadap
apa yang jauh berbeda dari diriku dan pikiranku, mencoba membuka wawasan yang
lebih luas, belajar mengenyahkan pikiran negatif terhadap seseorang, berteman
dengan siapa saja, dan terus mencari peluang untuk belajar tentang hidup. Aku
tahu bahwa aku belum pantas disebut sebagai open-minded
person, tapi setidaknya hari ini aku lebih membuka pikiranku daripada hari
kemarin.
Banyak peristiwa-peristiwa dalam buku
yang menceritakan tentang keadaan sosial dan jalur kehidupan yang akhirnya aku
rasakan sendiri, sehingga aku lebih memahami konteks dari apa yang aku baca dan
mengantisipasi keadaan yang belum aku temui saat ini.
Dengan berbekal informasi-informasi yang
ku dapatkan dari buku, dengan mudah aku membangun relasi, merubah konstruk
pemikiran, tidak egosentris, dan yakin dengan langkah yang aku ambil. Walaupun frekuensi
jalan-jalan dan membaca bukuku kadang 60:40 atau 40:60, bukan berarti aku
menggantikan posisi buku sebagai sahabatku. Malah aku merasa bahwa kini aku
memiliki dua sahabat yang terus memberikanku pengetahuan-pengetahuan berarti
tentang kehidupan, buku dan jalan-jalan.
Telah banyak segmen kehidupan yang aku
lalui bersama buku, yang kemudian aku praktekkan dengan jalan-jalan. Dan kini
aku menyadari suatu hal.
Buku memang disebut sebagai jendela ilmu
(kehidupan), yang memang benar adanya. Namun, alangkah lebih baik jika kita
tidak hanya memandang ilmu (kehidupan) itu dari jendela saja dan mulai
melangkah keluar untuk turut menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
Kayaknya sih gitu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar