Senin, 09 Januari 2017

Jendela


 
source: comefare.donnamoderna.com


Tidak ada yang bisa menandingi indahnya momen kolaborasi antara sinar matahari pagi, secangkir kopi, dan sebuah buku yang mengajak pembaca untuk menggunakan logikanya dalam memandang sebuah kehidupan. Ya, di sinilah aku, menyesap kopi yang terlampau panas, yang memang sengaja ku buat begitu agar awet dalam menemani lembar demi lembar yang nantinya akan ku arungi pagi ini.

Setelah menyesap kopi, aku mulai fokus ke buku di tangan, membuka acak sebuah halaman, dan menghirup aroma lembaran tersebut. Hmm. Orang lain boleh berkata kalau aroma kopi, teh, dupa, ataupun lavender merupakan aroma yang menenangkan, tetapi tidak bagiku. Aroma sebuah buku, dengan jenis kertas tertentu, akan menghantarkan sensasi yang menyenangkan, sekaligus menenangkan. Dengan membaui aroma jenis kertas di buku, aku akan langsung mengetahui sebagus apa buku ini nanti. 

Aku sudah lama memiliki kebiasaan ini, menghirup aroma lembaran kertas dalam buku. Entah sejak kapan, yang pasti sudah lama sekali. Selama aku mengenal hal menakjubkan yang diberi nama “buku”.


Bermula dari sebuah Ensiklopedia Dinosaurus yang memiliki gambar menakjubkan, aku menyukainya, membacanya, dan kuulangi terus sehingga dapat menghafalnya di luar kepala. Orang tua ku menyadari minatku dan langsung berusaha untuk memberikan dukungan secara instrumental dengan membelikan banyak sekali buku. Komik, lebih tepatnya. 

Aku sangat yakin bahwa aku sama sekali tidak memahami maksud dari komik tersebut, sehingga saat membacanya pun aku hanya seperti orang berlatih membaca, bukan benar-benar memahami konteks dari tulisan tersebut. Agaknya lebih tertarik melihat gambarnya, yang kemudian tangan jahilku pun sukses menambahkan anting-anting, jenggot, bulu mata tambahan, lipstik, serta kumis di beberapa tokoh komik tersebut. 

Semakin bertambahnya usia, kecintaanku terhadap buku pun ikut bertambah. Aku haus akan bacaan. Semua bacaan ku lalap habis tanpa ampun. Jika sudah berhadapan dengan buku, aku bisa di kamar seharian, lupa mandi, bahkan juga lupa makan. Aku ingat saat berada di rumah saudara, aku menemukan sebuah buku saku yang kertasnya sudah agak lapuk. Dengan bersemangat aku membaca dan tidak menyadari bahwa ternyata bacaanku merupakan bacaan orang dewasa yang berisi adegan dewasa pula. Baru sampai bab satu, buku itu sudah direnggut dari tanganku dan mendapatkan banyak nasihat bahwa lebih baik membaca buku-buku yang dibelikan oleh orang tuaku saja, dan tidak dengan sembarangan membaca buku-buku semacam itu—pada saat itu, aku tidak begitu paham dengan apa yang dimaksud “semacam itu”.
  
Karena Ayah merupakan orang yang sama haus bukunya denganku, ia membuat semacam perpustakaan mini untuk buku-bukunya dan buku-bukuku. Bergabungnya koleksi buku kami, membuatku penasaran dengan bacaan Ayah yang tebal dan terlihat membosankan. Bukunya tidak banyak warna di sampul, tulisannya ekstra mini, dan tidak ada gambarnya pula di lembarnya. Aku mulai menebak-nebak isi dari buku tersebut dan apa yang membuat Ayah ku tertarik. 

Pada usia ke sembilan, Ayah mulai memperbolehkan aku untuk melihat koleksi bacaannya—buku-buku membosankan itu—dan kemudian merekomendasikan beberapa buku untuk ku baca. Dengan penasaran, aku mencoba menarik satu buku yang terlihat sangat tebal, sampulnya bewarna pudar, dengan tokoh seorang bocah lelaki di sampulnya. “Ini apa, Yah?” tanyaku.

“Pilihan bagus! Kamu harus membacanya! Ini buku bagus sekali, judulnya Bumi Manusia!” jelas Ayah sambil menunjuk sampul buku itu. Aku melihat nama pengarang buku itu dan berusaha keras untuk mengejanya, Pramoedya Ananta Toer.

Setelah membaca tetralogi buku itu dan menyelesaikannya dengan penuh tanda tanya serta agak kebingungan karena sebagian besar aku tidak memahami maksud dari kalimat yang dituliskan, Ayah merekomendasikan beberapa buku dan ku lahap semuanya tanpa ragu—walaupun tetap kebingungan dengan maksud dari isi bacaan buku-buku itu.

Saking cintanya dengan buku, pernah aku berimajinasi, saat ada bencana seperti gempa atau kebakaran, hal yang pertama aku selamatkan yaitu buku tetralogi Twilight ku, karena tidak rela jika Edward Cullen tertimbun batu bata.

Buku-buku tersebut membuatku tumbuh menjadi seorang gadis yang penuh tanya dan sedikit aneh. Aku merasa berbeda dari teman-temanku yang lain. Banyak pembicaraan mereka yang tidak aku pahami, terutama perilaku mereka. Aku ingin mencoba untuk berperilaku seperti mereka, namun entah kenapa aku terlihat bodoh dan mempertanyakan kembali perilaku itu, perlukah?

Menginjak bangku SMP, aku mulai bisa sedikit beradaptasi dengan sosial. Aku membuka diri dengan pembicaraan mereka dan berusaha untuk memahaminya, walaupun terkadang apa yang ada dalam otakku mulai agak terdistraksi jika sedang menggemari sesuatu. Misalnya saja, ketika menginjak bangku SMP, teman-temanku mulai banyak yang membicarakan ketertarikannya dengan lawan jenis, mulai membentuk suatu hubungan yang mereka anggap sebagai “pacaran”, dan pergi buang-buang uang dengan jalan-jalan ke Mall, sedangkan aku sedang sangat tertarik dengan istilah shape-shifter dan hal-hal tentang makhluk luar angkasa! Bisa kalian bayangkan, bagaimana reaksi teman-temanku ketika aku mulai berbicara tentang Alien berlendir di saat mereka sedang membuka topik tentang “cowok-kelas-sebelah-yang-ganteng-banget”?

Aku berusaha keras untuk memahami dan mengikuti pola pikir mereka. Namun, tetap saja aku tidak bisa meniru perilaku mereka.  Hanya mentok sampai memahami. Anehnya, hal itu tidak membuatku sedih. Pribadiku mulai terbentuk, untuk menjadi acuh terhadap tren. Aku tidak peduli dengan hal-hal booming, selagi itu tidak memberikan pengaruh yang merugikan terhadap aku dan buku-bukuku.

Saat menduduki bangku SMA, aku mulai banyak menemukan buku-buku yang bertema traveling, study abroad, berlatar belakang negara empat musim, dan masih banyak hal semacam itu. Pengetahuan-pengetahuan itu membuatku penasaran dan tertarik dengan melakukan perjalanan jauh. Tertarik dengan menemukan tempat-tempat baru yang menenangkan. Aku bahkan sempat berkhayal tentang membaca buku saat musim gugur di bangku taman. Deskripsi itu terasa romantis sebelum aku menyadari bahwa musim gugur itu dingin dan berangin, aku tidak akan bisa membaca tanpa resiko bukuku terbang dibawa angin atau tanganku tremor karena kedinginan. 

Untuk permintaanku kali ini, Ayah melarang karena ia takut melihatku jauh dari rumah. Aku anak perempuan satu-satunya, dan aku rasa aku paham dengan perasaannya. Aku tidak pernah lagi meminta untuk dibolehkan naik gunung atau ikut organisasi pecinta alam. Apalagi ketika temanku pernah mengatakan bahwa naik gunung bisa berakibat kematian. Aku rasa lebih baik melangkah di jalan yang aman saja.

Namun, ternyata perasaan ini semakin membuncah, dan dengan nekat aku pergi ke luar kota bersama temanku. Perasaan itu menyenangkan sekali!—perasaan saat keluar kota, bukan perasaan nekatnya. Aku paham benar resiko yang menantiku di rumah ketika orang tuaku tahu bahwa aku pergi jauh tanpa ijin, tapi aku lebih paham jika aku tidak bisa mengubur rasa ini terus, karena hasrat akan terus menggema dalam batinku dan memberontak untuk menuruti kemauannya.

Walaupun aku merasa bersalah karena dimarahi habis-habisan, tapi tidak menyesal karena setelah orang tuaku melihat bagian tubuhku masih utuh dan aku tidak mati, mereka melonggarkan perijinannya dan aku bisa bebas menikmati alam dengan bebas!

Aku memanfaatkan perjalanan hidupku untuk bertemu banyak orang-orang baru, lebih membuka diri dan pikiran terhadap apa yang jauh berbeda dari diriku dan pikiranku, mencoba membuka wawasan yang lebih luas, belajar mengenyahkan pikiran negatif terhadap seseorang, berteman dengan siapa saja, dan terus mencari peluang untuk belajar tentang hidup. Aku tahu bahwa aku belum pantas disebut sebagai open-minded person, tapi setidaknya hari ini aku lebih membuka pikiranku daripada hari kemarin. 

Banyak peristiwa-peristiwa dalam buku yang menceritakan tentang keadaan sosial dan jalur kehidupan yang akhirnya aku rasakan sendiri, sehingga aku lebih memahami konteks dari apa yang aku baca dan mengantisipasi keadaan yang belum aku temui saat ini. 

Dengan berbekal informasi-informasi yang ku dapatkan dari buku, dengan mudah aku membangun relasi, merubah konstruk pemikiran, tidak egosentris, dan yakin dengan langkah yang aku ambil. Walaupun frekuensi jalan-jalan dan membaca bukuku kadang 60:40 atau 40:60, bukan berarti aku menggantikan posisi buku sebagai sahabatku. Malah aku merasa bahwa kini aku memiliki dua sahabat yang terus memberikanku pengetahuan-pengetahuan berarti tentang kehidupan, buku dan jalan-jalan.

Telah banyak segmen kehidupan yang aku lalui bersama buku, yang kemudian aku praktekkan dengan jalan-jalan. Dan kini aku menyadari suatu hal.

Buku memang disebut sebagai jendela ilmu (kehidupan), yang memang benar adanya. Namun, alangkah lebih baik jika kita tidak hanya memandang ilmu (kehidupan) itu dari jendela saja dan mulai melangkah keluar untuk turut menjadi bagian dari kehidupan tersebut.

Kayaknya sih gitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar