![]() |
| sumber: Tumblr |
“Allahu akbar allahu akbar, laa illahailallah huwallahu akbar, allahu akbar walillahilham”
Terdengar sayup-sayup suara takbir di sekitaran
kampung. Suara tersebut bersahut-sahutan antar masjid dari RT yang berbeda.
Malam ini akan menjadi malam yang menenangkan bagi mereka yang menyukai
kumandangnya asma Allah dan akan menjadi malam panjang yang menyebalkan bagi
mereka yang menginginkan malam hening nan sepi.
Selesai menjalankan shalat maghrib, Ridho segera
berjalan menuju dapur. Sudah tidak sabar ingin menyeduh kopi dan menyesapnya.
Sesuatu yang selama bulan Ramadhan ini jarang ia lakukan. Takut asam lambungnya
naik karena harus puasa keesokan harinya, katanya. Entah apakah memang ada
korelasi atau tidak, ia pun tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah
minum kopi. Titik.
Kurang elok rasanya jika minum kopi tidak sambil merokok.
Maka dari itu setelah kopinya jadi, ia langsung membawanya duduk di teras dan
langsung dibakarnya rokok sambil sesekali membalas sapaan orang-orang yang
berlalu lalang di depan rumahnya.
Rumah Ridho yang tidak berada di pinggir jalan utama
tidak mengharuskannya bertatap dengan banyak orang lewat. Hal itu menjadi
keuntungan sendiri bagi Ridho karena malam ini dia sedang tidak ingin diganggu
dengan sapaan orang-orang yang lewat, kebiasaan orang kampung jika melewati
depan rumah orang.
Malam ini ia ingin berpikir.
Agaknya suara takbir membuat pikirannya
melayang-layang dan mempertanyakan banyak hal. Salah satunya ritual yang
dilakukan oleh banyak orang di Indonesia saat lebaran, yaitu saling meminta
maaf.
Maaf-memaafkan saat lebaran tentunya tidak asing lagi
bagi kita. Saat lebaran tiba, orang cenderung menjadi lebih puitis dalam
merangkai ucapan-ucapan yang nantinya akan dikirim ke semua kontak dan grup di
WhatsApp, LINE, SMS, ataupun platform
lain. Pada hari itu pun orang-orang cenderung akan keliling, berjabat tangan
antar tetangga, kawan, dan keluarga. Saling mengucap maaf dan teralirlah kata-kata
mulai dari “Minal aidzin wal faidzin
yaa” sampai “Mulai dari nol yaa” layaknya petugas isi bensin di SPBU.
Ridho merasa ada yang salah dengan ritual tahunan
tersebut. Ia mulai mempertanyakan arti dan esensi dari aktivitas maaf-memaafkan
massal. Sebenernya aktivitas itu untuk apa?
Meminta maaf dilakukan bagi mereka yang merasa
bersalah, dalam kata maaf terkandung unsur penyesalan dan usaha untuk tidak
lagi melakukan kesalahan yang diperbuat. Kedua unsur tersebut penting dalam
maaf. Untuk apa meminta maaf jika tidak tahu salahnya dimana? Untuk apa meminta
maaf jika nantinya kesalahan tersebut diulangnya lagi? Dan anehnya, kedua unsur
itu jarang diperhatikan oleh orang-orang, terutama kala lebaran.
Mungkin jika dibahasakan, akan menjadi seperti ini
“Aku minta maaf ya bro, kurang tahu
sih salahku dimana, tapi aku minta maaf saja ya”.
Kurangnya pengetahuan orang terkait kata maaf cukup
menyedihkan. Itulah kenapa usai hari lebaran, Juleha tetap menggoda Paijo,
suami Juminten; Satrio tetap mengatakan makan gorengan dua biji walaupun yang
dimakannya lima biji saat bertandang ke warung Yu Nem; Wening tetap ‘main’ di
belakang Yanto, suaminya; Minah dan Rita tetap menyebarkan gosip antar satu
sama lain lantaran tidak mau kalah saing dengan kekayaan masing-masing; Sugeng
tetap suka mem-bully Darul di
sekolah.; dan Sarno tetap saja menebar paku di jalan agar banyak orderan tambal
ban di bengkelnya
Siapa bilang mereka tidak saling meminta maaf saat
lebaran? Siapa bilang mereka tidak saling mengunjungi rumah satu sama lain?
Siapa bilang mereka tidak berjabat tangan dan saling mengirim ucapan-ucapan di
WhatsApp? Semua itu telah mereka lakukan. Namun mengapa tetap saja terulang?
Itulah pentingnya kedua unsur yang disebutkan tadi.
Mereka harus tahu benar apa kesalahan mereka, sesali, lalu berjanji minimal
dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Masalahnya apa mereka paham
kesalahan mereka? Mungkin iya. Tapi apakah bertukar maaf selama lebaran itu
dilakukan di atas kesalahan yang mereka lakukan? Sepertinya tidak.
Apakah hanya Juleha, Satrio, Wening, Minah, Rita,
Sugeng, dan Sarno yang begitu? Ridho menggeleng. Ia menduga sebagian besar
orang meminta maaf saat lebaran bukan karena mereka mengakui kesalahan. Namun
lebih karena…apa? Ritual hari raya? Formalitas lebaran? Mengikuti tren tahunan?
Meminta maaf atas kesalahan yang disengaja maupun yang
tidak disengaja. Mungkin definisinya dalam sekali. Dibaca puluhan kali pun akan
tetap mengharukan bagi yang menerima pesan. Meminta kesediaan penerima pesan
untuk memaafkan kesalahan-kesalahan pengirim pesan yang sekiranya tidak
disadari namun terasa menyakitkan bagi si penerima pesan. Namun, apa maknanya?
Kosong. Nol besar.
Coba diterapkan dalam pengandaian kasus. Darul merasa
sakit hati jika dipanggil ‘gendut’ oleh Sugeng. Sugeng tidak sadar bahwa
panggilannya akan berdampak sakit hati bagi Darul. Saat lebaran, Sugeng meminta
maaf pada Darul dengan kalimat bertuliskan “Maafkan kesalahanku yang disengaja
maupun yang tidak disengaja”. Besoknya saat bertemu, Sugeng tetap memanggilnya
‘gendut’ dan Darul tetap sakit hati. Omong kosong tahunan macam apa yang sedang
dilakukan?
Itulah kenapa Ridho enggan untuk meminta maaf duluan
pada orang-orang yang dikenalnya. Ia cenderung membalas saja dengan “Iya,
sama-sama yo bro” terutama bagi orang
yang dianggap jarang berinteraksi dengannya.
Pernah ia ditanyai alasan tidak mengirimkan
pesan-pesan dan meminta maaf duluan, berusaha ia jelaskan pandangannya terkait
ritual tersebut. Bukannya mendapat dukungan, Ridho malah disemprot dan dikatai
kafir, liberal, melanggar syariat agama, tidak religius.
Baginya, penilaian tersebut terdengar konyol. Meminta
maaf tanpa tahu letak kesalahannya sama saja sia-sia. Apakah menghindari
perilaku sia-sia akan membuatnya menjadi orang kafir, melanggar syariat agama,
dan tidak religius? Ridho sendiri tidak mau bersikeras bahwa dirinya benar. Toh
ilmu agamanya masih dangkal, ia tidak tahu apakah pemikirannya liberal atau
tidak. Mungkin memang sudah ada dasar dan tuntunan untuk saling meminta maaf
saat lebaran berlangsung. Mungkin. Siapa tahu, kan?
Ridho tidak mau meminta maaf saat lebaran, bukan
berarti ia bermaksud angkuh dan suci dari kesalahan. Tentunya ia meminta maaf
jika menyesal saat melakukan kesalahan, bahkan sesegera mungkin setelah ia
menyadarinya, tidak perlulah menunggu lebaran tiba. Apakah salah jika ia tidak
merasa memiliki salah pada siapapun sehingga ia memutuskan untuk tidak meminta
maaf pada siapapun?
Baginya, meminta maaf merupakan perbuatan yang mulia,
dan elok rasanya jika sebagai manusia kita bisa saling maaf memaafkan. Namun,
baginya lagi, jangan jadikan maaf-memaafkan menjadi suatu yang sia-sia dan
sekedar formalitas belakang. Maknai perbuatan itu dalam-dalam.
Ada baiknya meminta maaf dengan benar dan sesuai
dengan unsur tadi. “Aku minta maaf karena sering memberikan jawaban yang salah
saat ujian”, “Aku meminta maaf karena suka menarik kerudungmu dari belakang”,
“Aku meminta maaf karena sering mengintipmu mandi”. Jelas apa yang disesali,
jelas ia meminta maaf untuk apa. Setelah itu jangan lagi diulangi
kesalahan-kesalahan itu. Berusaha sekuat tenaga dengan seluruh jiwa dan raga
untuk tidak memberikan jawaban yang salah saat ujian (bahkan tidak usahlah memberi), tidak menarik kerudung dari
belakang, dan tidak mengintip saat sedang mandi. Maknai suatu maaf dengan hal
tersebut.
Bukannya ia tidak mau melakukan ritual itu saat
lebaran, ia ingin juga sama dengan yang lain. Namun hatinya memberontak.
Mungkin karena akhir-akhir ini ia sensitif soal pemaknaan. Ia suka sekali
bertanya, entah pada diri sendiri maupun orang lain, makna dan esensi dari tiap
perbuatan dan perkataannya. Mengapa perlu begini? Mengapa harus begitu? Siapa
yang mengharuskan? Alasannya apa? Manfaatnya apa?
Ia merasa banyak orang akhir-akhir ini melakukan
sesuatu tanpa dasar yang kuat. Mereka cenderung tidak tahu makna dari perbuatan
mereka, sehingga yang terjadi hanya formalitas dan sekedar ritual belaka.
Itulah mengapa banyak orang yang kemudian kehilangan makna hidupnya. Mereka
tidak bisa memaknai hal-hal kecil dalam hidup, sehingga berdampak pada skala yang
lebih besar. Pemaknaan akan hidup itu sendiri.
| s |
Setiap orang berhak memaknai perbuatan dan hidupnya
masing-masing. Makna setiap orang toh berbeda. Tapi pastikan bahwa, sekecil
apapun, ada maknanya. Sehingga tidak perlu tersiksa oleh keadaan yang berujung
menyalahkan hidup, mengatainya tidak adil.
“Woy, Dho! Sholat ora
koe? Ayo!” suara Slamet, sahabat sekaligus tetangganya sejak kecil,
membuyarkan pikiran Ridho. Rupanya ia terlalu asyik dengan pikirannya sampai
tidak mendengar suara adzan isya.
“Sek, Met! Tak siap-siap sek. Sedilit!” Ridho langsung menghambur
masuk untuk berwudhu dan mengganti pakaian.
---
Tulisan ini juga diunggah di web http://kognisia.co

Tidak ada komentar:
Posting Komentar