Kamis, 14 Juni 2018

Ngopi Bareng Aktivis

sumber: anakunTad

Selamat malam.
Barangkali di antara kalian ada yang termasuk aktivis, terutama aktivis tanggap bencana maupun sosial. Mungkin ada baiknya kita ngobrol sejenak sambil menyeruput kopi yang masih mengepul. Sebatang-dua batang rokok tidak jadi soal untuk teman mengobrol kita. Apa saja, asal pesan yang ingin aku utarakan bisa tersampaikan pada kalian.
Tanggal 18 Desember 2017 kemarin aku mendapati kabar salah seorang artis di Korea Selatan yang bernama Jonghyun meninggal dunia. Tentunya kalian para remaja yang akrab dengan dunia maya tahu mengenai kabar ini. Tahu pula kalau berita ini cukup fenomenal dan menjadi trending topic di dunia. Warganet berduka untuk beberapa hari ini.
Kabar tentang meninggalnya Jonghyun tidak lantas membuat semua orang ikut berduka. Ada saja orang-orang seperti kalian yang memanfaatkan isu untuk nyinyir, berkomentar ini-itu. Paling banyak terdengar yaitu nyinyiran yang membandingkan antara reaksi duka warganet ketika mendengar kabar meninggalnya Jonghyun dengan reaksi terhadap Palestina. Bahkan terdapat akun dengan ribuan pengikut menuliskan “Ribuan manusia dibunuh di Palestina, mereka diam. Satu plastik bunuh diri, mereka menangis.”
Wow.

Menggunakan bahasa sarkas yang seolah tidak berpendidikan, kalian mencemooh reaksi warganet. Seakan paling benar dan paling suci, kalian menganggap bahwa satu nyawa tidak lebih berarti daripada ribuan nyawa di Palestina. Begitu?
Sekali lagi. Wow.
Aku tidak habis pikir. Atas dasar apa kalian berkata seperti itu? Apakah kalian merasa sudah jumawa sehingga berani berbicara sekasar itu? Apa yang sudah kalian lakukan untuk Palestina? Apakah ikut berjihad di sana? Sudah berapa milyar uang yang kalian sumbangkan? Sudah mengangkat berapa anak yatim Palestina korban perang?
Kejadian ini membuat aku jadi iseng ingin berbicara tentang kalian yang terkesan sudah paling hebat ini.
Kadang kalian ini memang suka lucu. Aku membayangkan orang di balik kata-kata perbandingan sarkas itu merupakan kalian-kalian yang suka ada dimana-mana. Bersikap heroik dengan mencoba menggaungkan korban-korban bencana, entah bencana alam, non alam, maupun bencana sosial. Membuat tagar selamatkan Rohingya, Palestina, dan tempat-tempat lain yang sedang dilanda musibah. Turun ke jalanan sambil membawa kotak kardus dengan tempelan bertuliskan hal-hal yang mempersuasi orang untuk meletakkan sebagian hartanya ke situ.
Oh, tidak. Aku tidak menganggap itu halnya yang salah. Toh, siapa aku berani menghakimi kalian? Itu bagus, kok. Sangat aktivis sekali. Cocok untuk kalian. Tentunya kalian sudah hebat dengan membantu saudara kita yang sedang dijatuhi kemalangan. Meringankan beban mereka tanpa memikirkan apa untungnya bagi diri kalian sendiri selain kepuasan batiniah. Aku senang banyak dari remaja yang peduli akan sosial seperti itu, membuatku sejenak berpikir kalau memang kalian penggiat sosial.
Tapi, nyatanya tidak jarang aku melihat sebagian dari kalian hanya melakukannya sebagai ajang keren-kerenan atau ajang foto-foto yang kemudian dibagikan ke akun sosial media dengan diberi caption berupa kalimat-kalimat heroik yang membara. Tidak jarang juga aku mendapati para aktivis seperti kalian ini kemudian membuang sampah sembarangan. Atau bahkan tidak suka berbaur dengan semua kalangan (terutama kalangan bawah) di lingkup mahasiswa. Lho? Aneh kan? Penggiat sosial tapi malah berperilaku tidak selayaknya.
Terus terang, aku bukanlah orang yang mengeluarkan banyak harta dan menggembar-gemborkan tentang musibah orang yang nun jauh keberadaannya di sana. Bukan karena aku zionis yang mati rasa, bukan juga karena sombong dan tidak peduli sosial. Tapi lebih karena aku percaya, perubahan dimulai dari sekitar kita. Itu artinya, daripada terlalu memikirkan korban luar negeri, lebih baik memikirkan nasib bangsa kita.
Bagaimana bisa kalian menyumbang milyaran untuk Palestina, sedangkan tetangga kalian saja kelaparan? Bagaimana bisa kalian menggaungkan pembelaan terhadap Rohingya, jika melihat nenek-nenek tidak mendapat kursi di bis saja kalian tidak mau mengalah. Lucu bukan?
Aku tidak mengatakan jika kegiatan sosial kalian salah. Hanya saja aku ingin menyarankan untuk mengutamakan hal-hal terdekat. Bukankah yang kalian cari adalah pahala? Tentunya kalian paham hadist riwayat Thabrany yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda “…Wahai umat Muhammad, demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah tidak akan menerima sedekah seseorang yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan sedekah atau bantuan itu kepada orang lain. Dan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti.
Untuk itu, balik ke perbandingan sarkas yang kalian lakukan, janganlah kalian merasa seolah paling benar dengan mendiskreditkan reaksi orang lain. Memangnya perilaku kalian yang mengutamakan korban di sana sudah benar? Memangnya sikap heroik kalian sudah tepat? Cobalah untuk mengoreksi diri sendiri dulu sebelum kemudian mengomentari orang lain.
Itu kalau yang komentar memang beneran aktivis. Kalau yang nyinyir malah aktivis like gimana? Gak tahu aktivis like? Itu lho, kalian-kalian hanya mendukung korban bencana menggunakan tombol like yang kalian anggap dapat menjadi perantara atas doa-doa kalian. Ngaku coba, siapa yang nyinyirin orang tapi diri sendiri tidak ada kontribusi? Edan tenan.
Ah, tidak terasa banyak cakap juga aku ini. Tapi, aku rasa kalian semua sah-sah saja berkomentar tentang apapun, bahkan nyinyir sekalipun. Syaratnya hanya dilakukan ketika waktunya tepat. Dan waktu yang tepat untuk berkomentar tentang kehidupan orang yaitu ketika kalian sudah yakin masuk surga dengan segala kesucian kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar