![]() |
| sumber: anakunTad |
Selamat malam.
Barangkali di antara kalian
ada yang termasuk aktivis, terutama aktivis tanggap bencana maupun sosial.
Mungkin ada baiknya kita ngobrol sejenak sambil menyeruput kopi yang masih
mengepul. Sebatang-dua batang rokok tidak jadi soal untuk teman mengobrol kita.
Apa saja, asal pesan yang ingin aku utarakan bisa tersampaikan pada kalian.
Tanggal 18 Desember 2017
kemarin aku mendapati kabar salah seorang artis di Korea Selatan yang bernama
Jonghyun meninggal dunia. Tentunya kalian para remaja yang akrab dengan dunia
maya tahu mengenai kabar ini. Tahu pula kalau berita ini cukup fenomenal dan
menjadi trending topic di dunia. Warganet
berduka untuk beberapa hari ini.
Kabar tentang meninggalnya
Jonghyun tidak lantas membuat semua orang ikut berduka. Ada saja orang-orang seperti
kalian yang memanfaatkan isu untuk nyinyir, berkomentar ini-itu. Paling banyak
terdengar yaitu nyinyiran yang membandingkan antara reaksi duka warganet ketika
mendengar kabar meninggalnya Jonghyun dengan reaksi terhadap Palestina. Bahkan
terdapat akun dengan ribuan pengikut menuliskan “Ribuan manusia dibunuh di
Palestina, mereka diam. Satu plastik bunuh diri, mereka menangis.”
Wow.
Menggunakan bahasa sarkas yang
seolah tidak berpendidikan, kalian mencemooh reaksi warganet. Seakan paling
benar dan paling suci, kalian menganggap bahwa satu nyawa tidak lebih berarti
daripada ribuan nyawa di Palestina. Begitu?
Sekali lagi. Wow.
Aku tidak habis pikir. Atas
dasar apa kalian berkata seperti itu? Apakah kalian merasa sudah jumawa
sehingga berani berbicara sekasar itu? Apa yang sudah kalian lakukan untuk
Palestina? Apakah ikut berjihad di sana? Sudah berapa milyar uang yang kalian
sumbangkan? Sudah mengangkat berapa anak yatim Palestina korban perang?
Kejadian ini membuat aku jadi
iseng ingin berbicara tentang kalian yang terkesan sudah paling hebat ini.
Kadang kalian ini memang suka
lucu. Aku membayangkan orang di balik kata-kata perbandingan sarkas itu
merupakan kalian-kalian yang suka ada dimana-mana. Bersikap heroik dengan
mencoba menggaungkan korban-korban bencana, entah bencana alam, non alam,
maupun bencana sosial. Membuat tagar selamatkan Rohingya, Palestina, dan
tempat-tempat lain yang sedang dilanda musibah. Turun ke jalanan sambil membawa
kotak kardus dengan tempelan bertuliskan hal-hal yang mempersuasi orang untuk
meletakkan sebagian hartanya ke situ.
Oh, tidak. Aku tidak
menganggap itu halnya yang salah. Toh, siapa aku berani menghakimi kalian? Itu
bagus, kok. Sangat aktivis sekali. Cocok untuk kalian. Tentunya kalian sudah hebat
dengan membantu saudara kita yang sedang dijatuhi kemalangan. Meringankan beban
mereka tanpa memikirkan apa untungnya bagi diri kalian sendiri selain kepuasan
batiniah. Aku senang banyak dari remaja yang peduli akan sosial seperti itu,
membuatku sejenak berpikir kalau memang kalian penggiat sosial.
Tapi, nyatanya tidak jarang
aku melihat sebagian dari kalian hanya melakukannya sebagai ajang keren-kerenan
atau ajang foto-foto yang kemudian dibagikan ke akun sosial media dengan diberi
caption berupa kalimat-kalimat heroik
yang membara. Tidak jarang juga aku mendapati para aktivis seperti kalian ini
kemudian membuang sampah sembarangan. Atau bahkan tidak suka berbaur dengan
semua kalangan (terutama kalangan bawah) di lingkup mahasiswa. Lho? Aneh kan? Penggiat sosial tapi
malah berperilaku tidak selayaknya.
Terus terang, aku bukanlah
orang yang mengeluarkan banyak harta dan menggembar-gemborkan tentang musibah
orang yang nun jauh keberadaannya di sana. Bukan karena aku zionis yang mati
rasa, bukan juga karena sombong dan tidak peduli sosial. Tapi lebih karena aku
percaya, perubahan dimulai dari sekitar kita. Itu artinya, daripada terlalu
memikirkan korban luar negeri, lebih baik memikirkan nasib bangsa kita.
Bagaimana bisa kalian
menyumbang milyaran untuk Palestina, sedangkan tetangga kalian saja kelaparan?
Bagaimana bisa kalian menggaungkan pembelaan terhadap Rohingya, jika melihat
nenek-nenek tidak mendapat kursi di bis saja kalian tidak mau mengalah. Lucu bukan?
Aku tidak mengatakan jika
kegiatan sosial kalian salah. Hanya saja aku ingin menyarankan untuk
mengutamakan hal-hal terdekat. Bukankah yang kalian cari adalah pahala?
Tentunya kalian paham hadist riwayat Thabrany yang mengatakan bahwa Rasulullah
bersabda “…Wahai umat Muhammad, demi Allah yang
telah mengutusku dengan kebenaran, Allah tidak akan menerima sedekah seseorang
yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan
sedekah atau bantuan itu kepada orang lain. Dan demi Allah yang jiwaku berada
dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti”.
Untuk itu, balik ke
perbandingan sarkas yang kalian lakukan, janganlah kalian merasa seolah paling
benar dengan mendiskreditkan reaksi orang lain. Memangnya perilaku kalian yang
mengutamakan korban di sana sudah benar? Memangnya sikap heroik kalian sudah
tepat? Cobalah untuk mengoreksi diri sendiri dulu sebelum kemudian mengomentari
orang lain.
Itu kalau yang komentar memang
beneran aktivis. Kalau yang nyinyir malah aktivis like gimana? Gak tahu aktivis like?
Itu lho, kalian-kalian hanya
mendukung korban bencana menggunakan tombol like
yang kalian anggap dapat menjadi perantara atas doa-doa kalian. Ngaku coba,
siapa yang nyinyirin orang tapi diri sendiri tidak ada kontribusi? Edan tenan.
Ah, tidak terasa banyak cakap
juga aku ini. Tapi, aku rasa kalian semua sah-sah saja berkomentar tentang
apapun, bahkan nyinyir sekalipun. Syaratnya hanya dilakukan ketika waktunya
tepat. Dan waktu yang tepat untuk berkomentar tentang kehidupan orang yaitu
ketika kalian sudah yakin masuk surga dengan segala kesucian kalian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar