![]() |
| sumber: Tumblr |
“Allahu akbar allahu akbar, laa illahailallah huwallahu akbar, allahu akbar walillahilham”
Terdengar sayup-sayup suara takbir di sekitaran
kampung. Suara tersebut bersahut-sahutan antar masjid dari RT yang berbeda.
Malam ini akan menjadi malam yang menenangkan bagi mereka yang menyukai
kumandangnya asma Allah dan akan menjadi malam panjang yang menyebalkan bagi
mereka yang menginginkan malam hening nan sepi.
Selesai menjalankan shalat maghrib, Ridho segera
berjalan menuju dapur. Sudah tidak sabar ingin menyeduh kopi dan menyesapnya.
Sesuatu yang selama bulan Ramadhan ini jarang ia lakukan. Takut asam lambungnya
naik karena harus puasa keesokan harinya, katanya. Entah apakah memang ada
korelasi atau tidak, ia pun tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah
minum kopi. Titik.
Kurang elok rasanya jika minum kopi tidak sambil merokok.
Maka dari itu setelah kopinya jadi, ia langsung membawanya duduk di teras dan
langsung dibakarnya rokok sambil sesekali membalas sapaan orang-orang yang
berlalu lalang di depan rumahnya.
Rumah Ridho yang tidak berada di pinggir jalan utama
tidak mengharuskannya bertatap dengan banyak orang lewat. Hal itu menjadi
keuntungan sendiri bagi Ridho karena malam ini dia sedang tidak ingin diganggu
dengan sapaan orang-orang yang lewat, kebiasaan orang kampung jika melewati
depan rumah orang.
Malam ini ia ingin berpikir.





